Situs Berita, Berita Terkini, Portal Berita, Berita Terhangat, Berita Terbaru, Ciputra News

Kementan: Produksi Cabai Normal

kementerian pertanian , produksi cabai , jakarta

Posted on 28 Jun 2013. Hits : 159

Kementerian Pertanian mengungkapkan produksi cabai dalam negeri untuk kebutuhan konsumsi di bulan Juli-Desember 2013, normal.

Pelaksana Harian Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Pertanian Kementerian Pertanian Yasid Taufik saat di Jakarta, Jumat mengatakan, untuk itu impor cabai dilakukan guna memenuhi sedikit kekurangan atas kebutuhan.

"Untuk sementara produksi cabai dalam negeri bulan Juli-Desember 2013 diperkirakan normal, jumlah yang diimpor sesuai RIPH (Rekomendasi Impor Produk Hortikultura) merupakan jumlah yang normal untuk memenuhi sedikit kekurangan atas kebutuhan," ucapnya.

Yasid menyatakan, yang diatur dalam RIPH semester II/2013 adalah cabai segar untuk konsumsi, cabai segar dan olahan untuk bahan baku industri, dan cabai olahan untuk konsumsi.

"Cabai ini boleh masuk untuk semester II/2013 bulan Juli-Desember," ujarnya.

Saat ini, tambahnya, produksi di sentra cabai seperti Blitar dan Kediri cukup bagus. Harga di tingkat petani untuk cabai merah besar hanya Rp14.000 per kilogram.

Ketua Umum Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia Dadi Sudiana mengatakan, sejak awal Juni ini produksi cabai di sentra-sentra cabai di Jatim seperti di Banyuwangi, Jember, Lumajang dan Kediri menurun hingga 50 persen.

"Penurunan produksi ini mengganggu suplai. Suplai kurang dan dampaknya harga tinggi," katanya.

Dadi menjelaskan, cuaca ekstrem mengakibatkan produksi cabai lokal turun secara signifikan dari 10-12 ton per hektare, kini hanya 3-5 ton per hektare. Dampaknya, biaya produksi per kilogram cabai pun semakin membengkak.

Menurut dia, investasi satu hektar kebun cabai mencapai Rp65 juta, saat produksi mencapai 12 ton maka harga per kilogram cabai bisa murah.

Namun, ketika produksi hanya 3-5 ton, harganya akan melonjak tinggi.

Dadi melanjutkan, dengan cuaca normal, produksi cabai lokal bisa mencapai 1,1 juta ton dengan harga di petani hanya Rp4.000 per kilogram.

Tapi, dengan cuaca ekstrem seperti saat ini, produksi yang turun mengakibatkan harga di petani meningkat menjadi Rp12.000-20.000 per kilogram.

Dadi menyatakan, kebijakan pemerintah yang selalu mengambil jalan pintas dengan melakukan impor saat produksi kurang dan harga naik.

Menurut dia, seyogianya pemerintah dapat melakukan pendampingan terhadap petani dalam hal budi daya saat cuaca ekstrem agar produksi tidak terganggu.

Hal itu, lanjutnya, dilakukan supaya harga yang diterima petani sesuai dengan biaya produksi dan konsumen mendapatkan harga yang wajar.

"Kalau impor ya importir mendapatkan keuntungan, konsumen dapat harga murah, petani sudah gagal panen juga menderita karena harga tidak sesuai dengan yang dikeluarkan untuk produksi. Hal ini selalu berulang tiap tahun," tandasnya. (ant/ed)

Penghargaan Laporan Keuangan Diharapkan Dorong 'Good Governance'

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan Nurhaida mengharapkan, penghargaan Laporan Keuangan Tahunan (Annual Report Award/ARA) mampu mendorong praktik tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance) melalui keterbukaan informasi.

BC Surakarta Amankan Mesin Pembuat Rokok Ilegal

Bea Cukai Surakarta mengamankan satu unit mesin untuk memproduksi rokok ilegal merek Shenzen seri GRA208 (MK-8 MAKIII) yang tidak memiliki lisensi resmi dalam penindakan hukum yang berlangsung di Klaten, Jawa Tengah.

Ratusan Wisatawan di Gunung Rinjani Dievakuasi

Balai Taman Nasional Gunung Rinjani mengirim tim untuk mengevakuasi ratusan wisatawan yang masih berada di atas gunung karena jalur pendakian sudah ditutup akibat letusan Gunung Barujari, di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Dua Perusahaan Akan Catat Saham Perdana Rabu

Bursa Efek Indonesia mengemukakan bahwa dua perusahaan, yakni PT Aneka Gas Industri Tbk dan PT Paramita Bangun Persada Tbk akan mencatatkan saham perdana pada Rabu (28/9).

Pertarungan Trump-Clinton di Media Sosial Kian Sengit

Persaingan antara dua kandidat presiden Amerika Serikat dari Partai Republik Donald Trump dan Partai Demokrat Hillary Clinton di media siber dan media sosial berlangsung sengit.